Unconditionally
Puluhan kilatan blits kamera itu ikut menutup perbincangan dalam bedah buku dan juga seminar, di kota yang siang ini udaranya kurang bersahabat, Surabaya. Ini kota ketiga yang kudatangi. Setelah kota ini, tinggal ibu kota indonesia yang akan kusambangi, untuk tempat terakhirku menghadiri undangan sebagai pembicara dalam seminar dan juga bedah buku yang penulisnya adalah diriku sendiri. Dan saat semua selesai, aku tinggal fokus dengan rencana pernikahanku, yang kalu tidak ada halangan merintang, 2 bulan lagi, aku akan berubah status menjadi seorang istri.
Aku masih berdiri di sini, masih termenung menatap hujan. Sambil memegang buku karyaku, pikiranku terbang ke beberapa tahun silam. Pada waktu dimana ujian datang padaku bertubi- tubi. Saat hari- hariku di habiskan dengan berpura-pura bahagia. Berpura-pura tenang seakan tak terjadi apa-apa. Padahal, ada yang hancur, ada yang hilang, ada yang rusak di dalam hati ini. Dan alasan yang membuat semua seakan tak bisa diperbaiki lagi adalah semua kerusakan dan rasa sakit itu dibuat oleh orang-orang yang kusebut keluarga.
Saat mengingat semuanya, rasanya ingin sekali menitikkan air mata. Tapi, semua waktu itu yang akhirnya membuatku menjadi sekokoh karang ditengah lautan. Membuatku belajar bagaimana nantinya aku harus berkeluarga, membuatku belajar bagaimana mempersiapkan diri untuk bisa bersahabat dengan generasi penerusku. Menjadi sosok orang tua yang menyenangkan, memberi kebebasan yang tanpa harus diminta, mampu mereka pertanggung jawabkan sendiri. Dan dari semua rasa sulit itu, kini aku berbagi dengan semuanya, semua yang akan, sedang, atau sudah menjadi sosok yang disebut orang tua, lewat buku yang kugenggam ini.
***
“Kamu itu nggak ada gunanya! Udah pergi aja dari rumah ini, kerjanya cuma bikin susah.” Lagi-lagi kata-kata itu yang kudengar terucap dari sosok orang yang selalup kusebut “bapak”.
Sambil tetap kuteruskan kegiatan menyapuku, aku dengarkan semua hinaan dan tuduhan dari bapak, yang notabene tanpa alasan. Semua tengah duduk manis di atas sofa,dari mulai bapak, mama sampai adikku yang paling kecil. Lengkap. Semua orang menikmati pemandangan itu, saat dimana aku dihina dan dicaci sembari mengerjakan kegiatan wajibku membereskan rumah.
Sambil menahan sayatan demi sayatan dari apa yang diucapkan, aku hanya berusaha berbesar hati, berusaha tetap bersikap biasa, seakan tidak ada yang terjadi. Entah apa penyebabnya, yang ku tahu sebelumnya, aku hanya berusaha memberi tahu jadwal kuliahku semester ini. Tapi, mereka menganggap itu jadwal palsu. Mereka menganggap aku bukan sibuk di kampus, tetapi sibuk hunting dengan teman-temanku. “Masa kuliah pulangnya lewat maghrib terus, kuliah apaan itu?” kali ini giliran mama bersuara.
“Kuliahnya belajar jadi perempuan nggak bener kali ma….” adik perempuanku yang masih SMP ikut menimpali.
“Yaelah… kuliah juga nggak pinter-pinter banget!” kakak laki-laki pertamaku juga ikut mencibir.
Hanya kakak ke 2-ku yang masih tetap diam, bahkan berusaha menenangkan suasana tegang itu, walaupun sia-sia.
***
Bukan hal aneh jika suasana seperti itu terjadi di tempat yang semua keluarga di dunia menyebutnya rumah, lebih tepatnya rumah-ku, eh…rumah orang tua-ku. Entah apa yang menjadi behind the scene semua kejadian ini, tapi yang kutau, selepas aku tidak lagi tinggal dengan nenek, hidupku berubah 3600 derajat. Aku lahir di sebuah negara yang pernah menjadi bagian dari indonesia, Dili. Timor. Semua bertanya-tanya, kenapa aku bisa lahir disana. Selain karena takdirNya, aku bisa mengeluarkan tangis pertamaku disana karena ayahku di tugaskan di daerah itu. Tapi, saat aku terlahir, Dili sedang dalam kondisi rusuh. Yang akhirnya membuatku harus berpisah dengan keluargaku untuk dirawat nenek, mulai dari usia 28 hari.
Nenek merawatku dengan penuh kasih sayang. Dari beliau, aku mengerti apa itu keperdulian. Bagaimana berbuat baik kepada sesama, tanpa memandang fisik dan strata sosialnya. Namun, saat usiaku genap 5 tahun, nenek dengan berat hati mengembalikanku pada kedua orang tua-ku. Merelakanku untuk hidup bersama mereka lagi, di tanah kalimantan. Banyak hal yang kurasa asing disini, wajah-wajah mereka, sikap mereka, bahkan jalan hidup mereka yang kurasa terlalu berlebih. Di waktu inilah pertama kalinya aku melihat wajah kedua orang tuaku dengan jelas, juga saudara-saudaraku.
Disini, kehidupanku dibedakan dengan 2 saudaraku. Mereka bersekolah di sekolah swasta terbaik di kota ini, sedangkan aku, harus puas di duduk di bangku SD negeri yang ada di kampung sebelah. Dari segi makanan-pun, mereka mengkonsumsi makanan yang jauh kualitasnya dibandingkan aku. Tak ku mengerti apa sebabnya, sampai saat makan-pun, aku harus menunggu mereka selesai makan terlebih dahulu, lebih tepatnya, aku makan sisa makanan mereka. Semua terus terjadi selama bertahun- tahun, dari mulai kami tinggal di Kalimantan, sampai kami mutasi lagi ke kota hujan, Bogor.
Disini semua semakin menjadi- jadi. Walaupun aku perempuan dan masih duduk di bangku sekolah dasar, tidak membuatku lepas dari cacian dan hinaan, bahkan pukulan. Aku sudah sangat bersahabat dengan tamparan, kepala sabuk, gagang sapu, dan sapu lidi. Bahkan, pernah dalam 1 bulan 3 gagang sapu patah saat dipukulkan ke kakiku. Darah dan lebam, kadang membuat tetangga- tetanggaku terpekik kaget, meskipun sudah keterlaluan, tapi yang bisa mereka lakukan hanya memintaku bersabar, karena mereka tidak ingin ikut turun dalam kehidupan intern keluargaku. Semua itu tidak hanya dilakukan oleh orang tua-ku, saudara-saudara kandungku juga bersikap demikian. Mereka memperlakukanku seakan aku ini pesuruh mereka, bukan adik.
***
Semua perlakuan itu membuatku merasa terasing, dalam usia yang masih sangat muda, aku terus berfikir keras tentang alasan semua ini terjadi. Tak jarang ada pikiran- pikiran negatif menghantui. Aku dikekang teramat sangat, tidak diberi kebebasan sedikit-pun untuk ber-ekspresi. Bahkan untuk sekedar mengerjakan tugas kelompok sekalipun aku dilarang. Setiap harinya, aku hanya boleh pergi ke sekolah dan setelah itu harus segera kembali ke rumah untuk di minta (dengan paksa) mengerjakan ini-itu.
Rasa ingin berontak itu ada. Hingga akhirnya di suatu sore saat aku pulang sekolah, aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya bertandang ke rumah seorang teman. Saat itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP, aku putuskan untuk menerima ajakan salah seorang sahabatku, Aruni namanya. Aku matikan telefon genggam-ku, supaya tidak ada panggilan dari mereka yang memaksa aku untuk pulang. Masalah kemarahan mereka, itu urusan belakang, pikirku.
Puas bermain, aku putuskan untuk pulang ke rumah. Di angkutan umum, hatiku benar-benar berdegup kencang. Sampai di rumah, habislah aku. Dan ternyata, saat sampai di jembatan dekat rumah, aku bertemu salah seorang tetangga.
“Bintang, dari mana aja? Yang lain udah berangkat ke Surabaya semua, nenek kamu meninggal.” Kata- kata agung, tetanggaku, membuatku hanya berdiri terpaku. Sesaat tersadar, segera kulangkahkan kaki cepat menuju rumah. Kulihat rumah kosong, tidak berpenghuni. Aku hanya bisa termenung menatap pemandangan kosong di depanku. Pikiranku tiba- tiba kembali ke masa dimana aku kecil dulu, tentang semua perlakuan nenek, yang akhirnya membuat aku sadar, bahwa beliau-lah sosok terbaik yang pernah kumiliki. Semua tawa, hari- hari penuh canda, pembelaan penuh kasih sayang, kini hanya bagian dari cerita tentang aku dan juga nenek.
Tiba- tiba pandanganku kabur oleh air mata yang menggenang, sebelum air mata itu terjatuh, sebuah tangan lembut menepuk pundakku. Seketika aku berbalik, dan kudapati sosok tante Linda, tetanggaku, berdiri di sebelahku. Dia adalah sosok yang selalu ikut menangis, saat tangisku habis ditelan rasa sakit akibat darah dan lebam. Sekarang, disampingku, dia berdiri dengan senyuman lembutnya, dia rengkuh aku perlahan, dia biarkan aku larut dalam tangisku.
“Bintang dari mana nak? Kok tumben baru pulang. Yang sabar ya… mbah udah nggak ada, semua udah berangkat duluan ke Surabaya. Bintang nanti nyusul berangkat sama om Bagus.” Dia tidak memaksaku menjawab, dia usap lembut kepalaku, ikut merasakan kehilangan yang kualami hari ini. Sedikit tenang, ku coba menceritakan apa yang terjadi. Mendengar semuanya, dia hanya tersenyum lembut kepadaku, mengerti. Mengerti bahwa aku hanya ingin sekali….. sekali saja merasakan kebebasan di luar rumah. Tapi, beliau coba arahkan keinginanku. Ajarkan aku untuk dapat lebih berlapang dada menerima semuanya, dan tidak pernah pergi kepada hal-hal negatif.
Setelah beberapa jam tante Linda menemaniku, datang adik ayahku. Dia memintaku berkemas, dan kami segera terbang ke Surabaya. Sampai disana, habis aku di caci dan disalahkan oleh kedua orang tua-ku. Perasaanku hancur, bukan karena kemarahan mereka, tetapi lebih kepada rasa kehilangan yang makin menjadi. Saat kusadar, bahwa setelah ritual kemarahan ini, kini tidak ada lagi sosok nenek yang mengajariku untuk memiliki kesabaran tiada batas seperti lautan. Yang selalu membuatku yakin, bahwa aku adalah sosok terbaik yang dipilih Allah, dan Allah yakin aku mampu melewati semuanya. Kubiarkan air mata ini menetes, saat itu yang aku mau hanya nenek bisa tenang di sisi-Nya, dan berada di surga-Nya, Amin.
***
Hari-pun berlalu, dan… Life Must Go On. Tidak ingin lama berlarut, aku berusaha mengalihkan kesedihanku kepada do’a dan juga kesibukanku mempersiapkan ujian masuk SMA. Entah kebaikan dari mana yang Allah berikan padaku, walaupun tidak pernah duduk di bangku bimbingan belajar, hasil ujian dan nilai-nilai yang kudapat jauh diatas kakak-kakakku yang mengikuti bimbel disana-sini. Say big thank’s to God, Alhamdulillah.
Awalnya aku tertarik masuk SMA Negeri, tapi… lagi dan lagi, takdir-Nya lebih berkuasa. Entah apa yang Allah rencanakan, Dia menuliskanku untuk ada di disini, di sebuah Islamic Boarding School atau Pesantren yang ada di kabupaten Bogor. Alasan yang terfikirkan olehku saat itu adalah kedua orang tua-ku ingin meng-asingkanku. Disana, walaupun tempatnya asri dan nyaman, tidak membuatku begitu saja survive dengan kehidupan yang ada. Butuh waktu satu tahun untuk bisa saling mengerti, dan harus ada satu fase pendewasaan berat yang kualami.
Tanpa kusadari, hari demi hari berlalu di tempat ini. Walaupun merasa terasing karena tidak pernah dicukupi oleh kedua orang tua-ku, semua tergantikan oleh sosok- sosok sahabat yang tidak hanya berbagi hati, tetapi juga berbagi keluarga. Aku yang notabene tidak dijenguk sesering mereka, juga ikut merasakan kehangatan keluarga, saat keluarga mereka datang menengok. Kadangkala, pikiranku menerawang jauh, apa sebenarnya alasan kedua orang tua-ku tidak pernah datang menengokku, mereka hanya mengirimkan uang seadanya. Tanpa mau bertanya cukup atau tidaknya. Dan yang lebih membuat hatiku miris, setiap akhir semester aku harus memutar otak berkali-kali untuk mencari alasan agar rapotku bisa kuambil sendiri,tanpa orang tua. Karena keduanya enggan datang untuk sekedar mengambil nilai hasil belajarku.
Di tempat ini kedewasaanku berkembang dengan sendirinya. Aku belajar bagaimana menjadi sosok yang ingin selalu bermanfaat untuk orang lain. Menjadi sosok yang bisa mencairkan ketegangan dan menghangatkan suasana. Bahkan, aku bisa ber- ekspresi dan ber-prestasi. Aku sering mengikuti kompetisi- kompetisi yang ber-bau bahasa inggris, dan Alhamdulillah, hasilnya selalu memuaskan. Aku belajar untuk menerima semua takdir yang Allah berikan. Dan, berusaha belajar dari sekitarku untuk bisa selalu bersyukur.
***
Semua yang kudapat dan kuraih, tetap tidak bisa membanggakan kedua orang tua-ku. Sikap mereka tidak pernah berubah. Walaupun kini sudah tidak ada sapu yang patah di badanku, tapi tamparan dan juga hinaan semakin menyayat hati. Di mata mereka aku yang hanya bisa masuk sebuah Universitas pendidikan negeri di Jakarta tidak sehebat kedua saudaraku yang bisa bersekolah di universitas negeri yang lebih ber-gengsi. Walaupun, di balik lolosnya keduanya, ada tangan-tangan kedua orang tuaku yang ikut bekerja, istilahnya “nitip”.
Aku yang ingin sekali duduk di bangku program hubungan internasional, kini harus terbengong- bengong dengan rencana-Nya. Rencana- Nya yang membuatku menjadi salah seorang mahasiswi yang berkonsentrasi pada ilmu kesejahteraan keluarga. Melenceng jauh memang, tapi tetap berusaha kujalani. Bukankah bersyukur itu adalah bentuk penerimaan paling baik?
Berat kujalani hariku sebagai mahasiswa. Harus pulang- pergi Jakarta- Bogor setiap harinya, berjuang di dalam kereta bersama mereka yang ingin mengais rezeki. Kedua orang tua-ku tidak mengizinkan aku stay cost, bukan… bukan karena mereka tidak ingin jauh dari aku. Tapi lebih kepada, aku di beri kewajiban mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Hanya aku, saudara-saudaraku, tidak. Bagaikan tinggal dengan orang tua tiri, dengan usia yang menginjak dewasa muda, aku harus terus merasa terkekang. Saat ada kesalahanku sedikit saja, mereka akan menghakimiku habis-habisan. Bahkan, pernah suatu kali, hanya karena jadwal kuliah yang ber-ubah, mama mendiamkanku selama kurang lebih 6 bulan.Aku dianggapnya orang asing. Dianggap tidak ada. Namaku tidak pernah disebutnya. Padahal, alasan yang dijadikan kemarahannya tidak ada yang logis.
Tapi, lagi dan lagi, tangan- tangan Allah bergerak mengatur semuanya. Aku tau jawabannya, mengapa Ia tuliskan aku ada di sini, sebagai mahasiswa ilmu kesejahteraan keluarga. Karena, Dia ingin aku tau apa yang selama ini salah dari kedua orang tua-ku. Dia ingin aku belajar bagaimana orang tua itu seharusnya. Dia ingin nantinya apa yang ku alami, tidak dialami lagi oleh anak-anak lain, terutama generasi penerusku.
Iya, disini… di konsentrasi ilmu ini, aku belajar bahwa negara terbaik itu, generasi terbaiknya dicetak oleh keluarga yang sejahtera. Sejahtera bukan hanya dari materi, tapi juga dari batin. Aku juga semakin paham, kenapa aku bisa diasingkan di rumah. Kenapa tidak pernah ada chemistry antara aku dan mama seperti pasangan ibu-anak lainnya. Itu karena saat dimana pembentukan kelekatan itu, usia 0-6 tahun, kelekatanku justru dibentuk oleh nenek-ku. Sehingga membuat semua cara hidup yang ku-anut lebih kepada cara hidup nenek-ku. Sulit menghadirkan kedekatan itu, karena keluargaku sendiri bersifat diktator, walaupun sifat itu hanya untukku.
Keluarga nantinya akan menghasilkan high quality human being, dengan syarat adanya komitmen, kasih sayang, responsibility, keadilan, kebebasan berpendapat, komunikasi yang baik dan pendidikan pada anak. Tetapi kenyataannya, tidak satupun kudapat dari keluargaku. Sempat aku bertanya, apa nantinya label high quality human being tidak ada dalam diriku. Tapi, lagi-dan lagi harus ku-ucap rasa syukur atas kehadiran sahabat, saudara, dan tetangga yang menggantikan semua syarat yang tidak bisa diberikan oleh keluargaku. Mereka membuatku tidak salah arah dan lari pada hal negatif.
Akhirnya, ditengah hari- hari akhirku sebagai mahasiswa dan juga tekanan keluarga yang belum berhenti, aku tulis semua yang kupelajari di kampus pendidikan ini. Aku ingin berbagi kepada semua orang tua di dunia, bagaimana keluarga itu seharusnya. Bagaimana kekerasan itu tidak hanya dinilai lewat fisik, tapi juga lewat batin. Bahwa seharusnya, tidak ada ke-diktatoran dalam keluarga, semua dibicarakan bersama, semua berhak berpendapat, semua memiliki andil dalam kesejahteraan keluarga dan pencapaian tujuan keluarga.
Lain aku, lain juga keluargaku. Bagi mereka, indikator sejahtera adalah harta, itulah yang membuat 3 saudaraku menjadi sangat konsumtif dan menilai semua dengan strata sosial. Yang lebih kusayangkan adalah, semua sikap yang salah dari mereka selalu dibenarkan oleh orang tua-ku, hingga akhirnya adikku tumbuh menjadi sosok pembangkang dan tidak pernah menghargai sesamanya, bahkan aku, kakaknya sendiri. Itu semua yang tidak ingin lagi kulihat ada di keluarga- keluarga lainnya di Indonesia. Bahwa apapun kondisi keluarga kita, bahwa apapun bentuk kehidupan kita, anak adalah sama. Dan mereka aset terbaik kita,unconditionally. Itulah alasanku menulis buku ini, Love our child, unconditionally.
***
Hujan masih mengguyur diluar sana, dan aku masih setia melihat rintiknya yang seakan membuatku terus percaya, bahwa keadaan apapun itu, semua pasti berlalu seiring berjalannya waktu. Kuingat lagi, beberapa pertanyaan penutup di sesi tanya jawab acara tadi siang,
“Lalu, keluarga mba sekarang dimana? Mba masih sering kontekan?” seorang mahasiswa ber-almamater biru bertanya antusias.
“ Mereka semua masih baik- baik saja, saya juga masih berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka, saya berusaha untuk menghindari konflik dengan tinggal jauh dari mereka.” Jawabku pasti.
“Mba masih mau menghormati mereka?” tanyanya lagi.
Sembari tersenyum, kujawab lagi “saya itu anak, tugas saya hanya berbakti kepada orang tua, apapun sikap mereka. Masalah apa yang mereka lakukan kepada saya, itu urusan mereka dengan Dia, Dia yang menitipkan saya. Itu pertanggung jawaban mereka.” Senyuman mahasiswa tadi mengembang menyambut jawabanku atas pertanyaannya. Tak berapa lama, moderator memintaku menyimpulkan perbincangan hari ini.
“…. saya hanya ingin semua menyadari, bahwa anak adalah interesting object matter, sosok yang paling menarik untuk kita selami. Apa yang kita lakukan, apa yang kita ajarkan, apa yang kita berikan, itu-lah jalan hidup mereka. Jadilah sosok yang nantinya berbangga hati saat melahirkan dan bisa membentuk high quality human being. Jadilah sahabat mereka, yang selalu mereka cari saat mereka senang, sedih, jatuh, dan juga ingin bangkit. Dengarkan apa yang mereka inginkan, jika salah, perbaiki, arahkan, jangan kita men-judge mereka begitu saja. Pendidikan paling utama adalah keluarga, jangan buat mereka kehilangan semua itu.”
“ Dan… untuk mereka yang juga mengalami kehidupan yang pernah saya rasakan, dalam hidup ini, kadangkala banyak hal yang terjadi di luar nalar kita. Ada yang senang, dan mungkin banyak yang menyedihkan. Down memang, sedih, kesal, marah. Tapi, apapun keadaannya, itu semua bukan alasan kita untuk tidak bisa bahagia dengan apa yang sudah Allah berikan dalam hidup ini. Kebahagiaan itu akan ada, saat kita bisa selalu mensyukuri apa yang Dia hadirkan untuk kita, baik ataupun buruk, syukuri-lah…unconditionally.
“Percayalah! Akan ada pelangi indah setelah hujan badai. Yakinkan hati, bahwa Allah percaya kita mampu melewati rintangan-Nya. Dan jangan kecewakan Dia yang sudah mempercayai kita. Bukankah, He would never place you in a situation that you can’t handle, right?” Tepuk tangan riuh-pun menyambut conclusion yang kuberikan.
***
Masih menatap hujan, aku lagi- lagi harus bersyukur, karena Dia pernah menempatkanku pada situasi paling berat dalam hidupku. Karena dari sana-lah aku bisa belajar tentang sebuah kesalahan. Aku mungkin tidak bisa merubah yang terjadi dalam hidupku, tapi setidaknya aku berusaha mencegah semua terjadi dalam kehidupan orang lain.
Tanpa kusadari, sesosok laki- laki gagah tengah menatapku dari halaman gedung ini dengan senyumnya, dengan payung yang ada di tangan kanan-nya, dia menghampiriku, mengajakku untuk segera kembali ke penginapan dan bersiap menuju ibu kota, besok. Dia Angga, calon suamiku. Selain sahabatku, dia menjadi saksi pembelajaran keras yang kualami. Bersamanya, aku sudah ber- komitmen untuk bisa menebar kasih sayang, untuk mencintai seluruh anak di dunia ini, terutama anak- anak kami. Karena kami tau, anak adalah titipan Allah, yang kalau kita merusak dan tidak menjaganya, yang menitipkan pasti akan marah. Bersamanya, aku ingin terus bisa bermanfaat untuk kehidupan orang banyak. Aku ingin membantu setiap keluarga untuk menyadari bahwa sejahtera keluarga itu adalah lahir dan batin, bukan hanya indikator lahir saja. Intinya, aku ingin bisa terus menjadi sosok yang mencairkan ketegangan dan menghangatkan suasana. Karena, sebaik- baik manusia, adalah yang bermanfaat untuk sesamanya. Useful, unconditionally… Bukan begitu?
***
“Kudedikasikan tulisan ini untuk mereka yang tidak letih memintaku bangkit. Memintaku bertahan pada situasi yang sebenarnya tidak dapat kupercaya mampu kujalani. Semoga, selalu ada tangan- tangan Allah yang mengatur kehidupan terbaik bagi kita semua. Percayalah, bahwa semua yang berakhir bahagia pasti pernah sakit sebelumnya.”
Bogor, 09 Februari 2014
When the rain is falling….
Widya Lestari
Komentar
Posting Komentar